ILY
Aku tak dapat melihat garis mukanya dengan jernih. Seperti apa raut mukanya? Bagaimana bentuk matanya? Warna apakah matanya itu? Bagaimana bentuk mulut dan hidungnya? Berapa tebalkah alis dan bulu matanya? Namun, dapat kulihat kemilau terpancar dari mukanya. Kemilau yang cantik lagi elok itu menyembunyikan mukanya dengan jelas meski tetap membuat mata selalu tertegun kala melihatnya. Aku hanya dapat mendengar suara lembutnya yang tak bisa dideskripsikan dengan berbagai kelembutan di dunia; bulu kucing, bantal yang dipintal dengan sutra murbei, beludru yang dipakai para borjuis bergelimang kesombongan. Suara yang lebih indah daripada nyanyian Mariah Carey yang selalu terputar di lagu natal yang sama setiap tahunnya. Hanya terdengar, tetapi seolah membelai jiwa yang sunyi dan kosong. Sentuhan yang tak pernah terasa mengoyak-oyak kalbu, entah dalam sebuah artian baik ataupun jahat. Aku tak tahu, juga tak mengerti. Kala sapuannya terasa membelai seperti gesekan lembut pemain biola, tubuhku...