ILY
Aku tak dapat melihat garis mukanya dengan jernih. Seperti apa raut mukanya? Bagaimana bentuk matanya? Warna apakah matanya itu? Bagaimana bentuk mulut dan hidungnya? Berapa tebalkah alis dan bulu matanya?
Namun, dapat kulihat kemilau terpancar dari mukanya. Kemilau yang cantik lagi elok itu menyembunyikan mukanya dengan jelas meski tetap membuat mata selalu tertegun kala melihatnya.
Aku hanya dapat mendengar suara lembutnya yang tak bisa dideskripsikan dengan berbagai kelembutan di dunia; bulu kucing, bantal yang dipintal dengan sutra murbei, beludru yang dipakai para borjuis bergelimang kesombongan. Suara yang lebih indah daripada nyanyian Mariah Carey yang selalu terputar di lagu natal yang sama setiap tahunnya. Hanya terdengar, tetapi seolah membelai jiwa yang sunyi dan kosong. Sentuhan yang tak pernah terasa mengoyak-oyak kalbu, entah dalam sebuah artian baik ataupun jahat. Aku tak tahu, juga tak mengerti.
Kala sapuannya terasa membelai seperti gesekan lembut pemain biola, tubuhku terasa ingin meledak dan berpencar bagiannya ke seluruh negeri. Mengotori mereka dengan perasaan tak jelas yang meneror diri dalam kubangan lumpur hitam yang bahkan tak kutahu sehitam apa rupanya. Bahkan meski aku tak bisa melihat jelas apa dia kah, hanya terlihat sedikit. Terlihat putih sedikit pucat, tetapi tidak terasa pucat saat ditangkap oleh indra. Warnanya tak jelas, tapi yang jelas adalah putih. Entah putih seperti apakah dia sebenar.
Kotoran yang bersih, mengotori yang hitam. Meski yang hitam tetap terlihat sedikit. Perasaan yang tak dapat terjelaskan dengan beribu sajak-sajak dan larik-larik puitis para penyair. Kahlil Gibran pun mustahil menggambarkannya. Sapardi pun turut tak ngerti apanya. Rendra pun tak tahu kata apa yang bisa memujanya.
Dia yang kecil namun tinggi. Tubuhnya anggun semampai. Hadir tiba-tiba tanpa diri meminta. Memberikan rasa kotor tetapi bersih, tak tahu apa maknanya. Dia yang bahkan tak kuketahui mengapa boleh hadir secara tiba-tiba.
Apa tujuanmu?
Apa inginmu tiba-tiba hadir dan memberikan kotor yang menyingkirkan hitam?
Siapa kau?
Katamu, kau Melisa.
Mengapa kau Melisa?
Mengapa meski kau berkata Melisa, aku enggan memanggilmu begitu?
Mengapa kupanggil kau Ily?
Kau ini sebenarnya apa! Kuteriakkan kuat-kuat dalam hati kala kau terus menghantui selama beberapa hari terakhir dalam bulan ini. Kau muncul di pikiran secara mendadak. Terbentuk secara mendadak. Terbayang secara mendadak.
Kau buatku hampir gila. Hatiku tak tenang saat menggumamkan.
Ily. Ily. Ily. Ily. Ily. Ily Ily. Ily Ily. Ily. Ily. Ily. Ily. Ily.
Debaran tiap kali diriku mengingat namamu seperti sebuah bom yang meledak dalam diriku. Kepalaku juga terasa seperti dihantam oleh reruntuhan gedung tinggi kala namamu terus tergumam tiada henti.
Tiap kali hatiku menyerukan namamu.
Semua ini membuatku bagai orang skizofrenia. Hatiku terus bertanya mengapa tiba-tiba menghantui? Mengapa tiba-tiba hadir dan membuat kepalaku pusing terisi oleh nama yang tak jelas dari mana lahir dan matinya itu!
Aku merasa kacau. Tak jelas dan tak normal. Tidak gila tapi juga tidak waras. Tubuhku bergetar kala mengingat dan mengucap namamu dalam ruh. Jiwaku seolah ingin ditebas saat terbayang dirimu saat tenggelam dan mengucap namamu dalam ruh. Jiwaku seolah ingin ditebas saat terbayang dirimu saat tenggelam dalam sunyi dan bising.
Napasku tak menentu. Tenggelam dalam lautan yang tak kuketahui di manakah akhirnya. Palung Mariana? Inti bumi? Atau mungkin hanya sedangkal kolam renang anak-anak?
Rasanya menyesakkan kala nama dan dirimu terus terbayang-bayang menghantui jiwa yang sunyi tetapi juga bising dalam satu waktu. Bagai cahaya dan gelap, interpretasi pada wujudnya yang antagonistis, kontradiksi, bertentangan, seperti cinta dan benci.
Ambivalen.
Ily.
Aku ingin engkau berhenti menghantui. Namun, aku pun tak ingin kau lepas. Aku ingin kau pergi. Namun, aku ingin kau tinggal.
Ambivalen.
Aku merasai takut kepadamu. Namun, aku merasai damai padamu.
Ambivalen.
Bisakah kau pergi?
Kata-kata yang terucap dalam kepalaku.
Jangan kau pergi.
Kata-kata yang juga terucap oleh hatiku.
Bisakah kau tinggal?
Keinginanku.
Bisakah kau pergi?
Keinginanku.
Jiwaku seolah tak bersatu padu. Terbagi atas dua pecahan yang menentang dan menerima. Menginginkanmu untuk ada, menginginkanmu untuk hapus. Seperti anak kecil. Tak tahu arah. Tak bisa memutuskan. Naif. Bodoh. Dungu. Goblok.
Aku ingin mendorongmu untuk pergi, pergilah dan tak kembali merunyamkan jiwaku yang telah runyam. Pergilah dari akal warasku agar senantiasa waras.
Namun, aku ingin menarikmu. Memberikan ruang kala lembut kulitmu membelai puncak kepala dan menyentuh wajahku. Bagaimana kau berkata hangat padaku. Bagaimana kau meramu hangat untuk diriku.
Namun, aku tak ingin terus tenggelam dalam dirimu. Yang tak diharap. Yang muncul tiba-tiba. Tak tahu apa alasan di baliknya.
Namun, aku tak ingin melepasmu. Hangat terasa dari bagaimana kelembutan tak masuk akal itu. Tak bisa kulepas. Tak ingin kulepas. Enggan terlepas.
Ily.
Apakah aku harus melepasmu? Benar.
Apakah aku harus mengikatmu? Benar.
Harus apakah aku?
Aku tak ingin melepas, tapi ingin terlepas.
Aku ingin terlepas.
Aku tidak ingin terlepas.
ILY.
ILY. ILY.
ILY.
Aku ingin kau terus ada. Aku ingin kau terus terputar dalam diriku.
Mungkin untuk sementara.
Biarkan kurasakan terus lembut jemarimu kala menyentuhku. Biarkan kurasakan damai kala dalam dekapmu. Biarkan kurasakan hangat suaramu. Biarkan kunikmati semu darimu.
Mungkin untuk sementara.
Biarkan semua seperti ini. Biarkan aku terus berada di dekatmu.
Meski semu.
Aku gila.
Biarkan aku berada dalam dekap dan hangatmu. Biarkan aku terus bersamamu.
Aku gila.
Ily.
Meskipun aku tahu bahwa ini salah.
Biarkanku milikimu.
Tertulis secara terbuka baginya yang semu.
Hantu yang mengacaukan jiwa.
Tak jelas berwujud.
ILY.
Ceritanya plot twistt.
BalasHapus