Pandangan Orang Pada Anak Sastra yang Membuat Saya Merana
Buku dan puisi (Gambar oleh: Wallace Chuch, Pexels) "Anak sastra, ya? Pasti jago bikin puisi." "Anak sastra, ya? Pasti puitis banget." "Anak sastra, ya? Pasti pinter nulis." Dear bapak-ibu, saudara sebangsa dan setanah airku, sesungguhnya meskipun saya ini ialah bagian daripada klan Sastra Indonesia, bukan berarti pula saya bisa berpuisi, bersastra, atau apalah namanya itu. Meskipun dibilang fakta yang icikiwir, aku gak bisa memungkiri kalau aslinya, aku sama sekali tidak sesastra itu, wahai kawan-kawanku sekalian. Elah, nulis cerpen aja masih welek meski dah lima tahunan ndekem di dunia kepenulisan (gatau buat apa sih). Terus, kenapa masuk sastra? Salah jurusan, kah? Ajaibnya.... Tidak. Justru, aku cocok-cocok aja sama lingkungan Sastra Indonesia. Meskipun, selayaknya mahasiswa pada umumnya, masih stres sendiri mikirin tugas. Tapi, ya ga stres sampe pengen bakar kampus gitu, enggak, ya. Soalnya sebelum nyemplung jadi mahasiswa, aku sudah terlatih dengan ...