Bermula dari Grup Facebook, Begini Tips dari Founder dan Co-founder Gaco Games Buat Developer Gim Baru

Dari kiri Project Manager Gaco Games Gregorius Bagas, Founder Gaco Games Johannes Nindyo, dan Co-founder Gaco Games Meiky William Wungkana di Studio Gaco Games, Sukoharjo pada, Selasa (28/4/2024). (Foto oleh: Bilqis Sima Victoria)

Sukoharjo—Saya mendatangi sebuah rumah lantai dua yang berada di sebuah perumahan di Colomadu, Sukoharjo. Namun, saat itu saya sedang tidak mendatangi kawan atau kerabat, melainkan sebuah studio gim yang tersembunyi di balik rumah tersebut, Gaco Games.

Gaco Games adalah salah satu studio gim indie Indonesia yang sudah beroperasi sejak 2017. Studio ini bermula dari dua orang, sebelum akhirnya memiliki sekitar 12 karyawan tetap, 2 orang konsultan, hingga anak magang seperti sekarang. Studio gim ini sudah membuat 2 gim mobile, yakni Epic Conquest dan Epic Conquest 2, dan saat ini sedang dalam pengerjaan proyek gim  berikutnya.


Salah satu proses pembuatan ilustrasi untuk proyek terbaru Gaco Games. (Foto oleh: Bilqis Sima Victoria)


Kedatangan saya di sana disambut oleh Yesika selaku customer support yang saya hubungi sebelumnya. Dia menuntun saya ke ruangan yang tampak seperti kamar, tetapi juga bukan kamar. Ruangan itulah yang menjadi tempat untuk mewawancarai narasumber-narasumber saya.


Awalnya saya mengobrol dulu dengan Gregorius Bagas (31) yang merupakan project manager Gaco Games sembari menunggu founder Gaco Games, Johannes Nindyo (30) dan co-founder Gaco Games, Meiky William Wungkana (32).


Berdasarkan penuturan Bagas, terbentuknya Gaco Games bermula dari grup Facebook. Mulanya, Jo, sapaan akrab untuk Johannes, memposting sebuah prototype gim di sana, kemudian ditanggapi  Meiky yang menawarkan diri untuk membuat aset gim.


“Pertamanya kontak-kontakannya online dulu. Ternyata udah cocok, ketemuan, nih. Kayaknya dulu di Salatiga,” katanya pada Selasa (28/4/24).


Setelah ditemani ngobrol-ngobrol sedikit oleh Bagas, akhirnya Jo datang, disusul dengan Meiky.


Pada awal kariernya, Founder Gaco Games itu mengatakan bahwa modal awalnya hanya laptop dan internet. Untuk skill, dia memanfaatkan hasil belajar membuat gim yang sudah diasahnya di komunitas Facebook, tepatnya grup game developer


“Maksudnya, kayak apa sih, gua enggak modal apa-apa, ya. Banyakan modal dari co-founder-nya,” candanya.


Dalam kerja sama mereka, Jo berperan sebagai programmer, sementara Meiky menjadi ilustratornya.


Lead Programmer Gaco Games itu mengatakan bahwa pada saat mereka merilis gim, orang-orang langsung cocok dengan gim buatan mereka.


“Awalnya kalau nanti game-game itu kalau misalnya gagal ya bisa dipake buat portofolio. Bisa buat magang nanti,” timpal Meiky.


Co-founder Gaco Games itu menambahkan bahwa awalnya kerja sama dengan Jo hanya sekadar proyek iseng-iseng saja. Namun, setelah menyelesaikannya, mereka merasa bahwa proyek itu dapat dikerjakan lebih serius lagi.


Hasil proyek itu kemudian diikutkan dalam sebuah lomba yang tidak disebutkan namanya. Sayangnya, proyek mereka gagal memenangkan perlombaan itu dan berakhir kehabisan uang.


Kekalahan itu tak menyurutkan semangat mereka untuk menyelesaikan gimnya dan berakhir sekitar Oktober. Setelah itu, mereka merilis proyek itu dan proyek mereka ternyata yang paling berhasil menarik pasar.


“Ternyata, ya udah, dari apa yang udah kita alami, game kita yang ternyata lebih diterima di masyarakat Indonesia, gitu, kan,” tambahnya.


 Jo sedang mengarahkan stafnya dalam membuat program gim. (Foto oleh: Bilqis Sima Victoria)


Jo juga menceritakan awal mula Gaco Games resmi berdiri, yakni setelah mereka menjadi salah satu studio gim terpilih dalam Indie Game Accelerator di Singapura.


“Kita mostly sebenarnya tentang bikin game-nya, sih. Jadi, bikin perusahaan itu side quest gitu kan. Eh, ternyata butuh HaKI (Hak Kekayaan Intelektual) kan untuk hak cipta. Nah, itu baru kita bikin,” ungkapnya.


Meiky turut mengungkapkan jika mereka lebih suka langsung menembak ke product customer dibandingkan melakukan B2B (business to business). 


“Jadi, apa, ya, sementara developer lain mencari publisher atau apa, kita lebih ke pengen tahu, sih, rasanya langsung ke market gitu, kan,” timpal  Jo.


Founder Gaco Games itu mengungkapkan tidak ada publisher yang bisa mereka percayakan untuk publikasi gim.


“Sudah banyak cerita-cerita buruk terhadap publisher,” tambah Meiky.


Co-founder Gaco Games itu memperingatkan developer yang ingin membuat studio agar lebih berhati-hati dalam mencari publisher.


Selain kehati-hatian, menurut Jo juga mengungkapkan bahwa sebaiknya pemilik studio gim membuat dulu gim mereka dan merilisnya sendiri dulu. Tak hanya itu, relasi dengan developer-developer lain juga dibutuhkan untuk mempermudah dalam publikasi gim.


“Lucunya, ya, karena itu mereka kan kenanya cuma ke developer-developer, ya. Enggak terlalu ndorong, sih, sebenarnya, tapi kayak mungkin ada kali yang nyantol,” katanya.


Menurut Meiky, minimal adanya publikasi sudah cukup meskipun hanya sedikit. Jika gim tidak naik pun, menurutnya tidak apa-apa karena masih ada cara lain untuk sukses menjadi developer gim.


“Kita enggak perlu terlalu takut, kok, ya. Tetap perlu ada back up-nya kalau misalkan ini enggak jadi kita bisa pakai buat portofolio ke studio lain. Kalau enggak diterima di studio lain. Yah, mungkin tinggal dikembangkan lagi skill-nya,” tambahnya.


Meiky mengatakan bahwa dalam menjadi seorang developer gim tak hanya memerlukan sifat mengayomi, tetapi juga harus sejalan. Jika ada perbedaan, sebisa mungkin perbedaan itu disatukan sehingga tetap bisa sejalan.


"Itu, ya, klasik, sih. Misalnya di setiap hal selain game dev juga ada kek gitu-gitunya. Tapi kalo especially, kalau game dev, ya. Kalau enggak, pasti sangat sulit buat ngebangun sebuah tim untuk ngecapai sebuah purpose bikin game sendiri. Apalagi kalau studio kecil gitu," ujarnya.


Maka dari itulah, menurut Lead Illustrator Gaco Games itu, diperlukan pula kemampuan teknikal agar kalau misalkan orang itu tidak mampu, kita masih dapat mengerjakannya. Meskipun sebenarnya, bisa juga menggunakan uang untuk membayar orang lain yang dapat membantu.


"Paling tiga itu. Technical skill, mengayomi, duit,” pungkasnya.


Komentar