Pandangan Orang Pada Anak Sastra yang Membuat Saya Merana
"Anak sastra, ya? Pasti puitis banget."
"Anak sastra, ya? Pasti pinter nulis."
Dear bapak-ibu, saudara sebangsa dan setanah airku, sesungguhnya meskipun saya ini ialah bagian daripada klan Sastra Indonesia, bukan berarti pula saya bisa berpuisi, bersastra, atau apalah namanya itu.
Meskipun dibilang fakta yang icikiwir, aku gak bisa memungkiri kalau aslinya, aku sama sekali tidak sesastra itu, wahai kawan-kawanku sekalian. Elah, nulis cerpen aja masih welek meski dah lima tahunan ndekem di dunia kepenulisan (gatau buat apa sih).
Terus, kenapa masuk sastra? Salah jurusan, kah?
Ajaibnya.... Tidak. Justru, aku cocok-cocok aja sama lingkungan Sastra Indonesia. Meskipun, selayaknya mahasiswa pada umumnya, masih stres sendiri mikirin tugas. Tapi, ya ga stres sampe pengen bakar kampus gitu, enggak, ya. Soalnya sebelum nyemplung jadi mahasiswa, aku sudah terlatih dengan berbagai macam jenis tugas mulai dari normal sampai abnormal sewaktu jadi nak SMA.
Tapi, ya .... Meski enggak salah jurusan, saya enggak enggan untuk mengakui bahwa saya tuh ga bakat bikin karya sastra. Apalagi kalau udah level susatra alias waw, nyeni bingits. Mustahil.
Maka dari itulah, pandangan orang-orang yang wowmazing soal anak-anak sastra justru sangat memberatkan kaum-kaum berotak kerdil macam saya. Karena kek, seolah-olah anak sastra pasti jadi si paling ngerti sastra gitu. Padahal aslinya, ya, enggak semua, misalnya kek saya.
Lah, terus kenapa masuk sastra?
Biasanya orang jawabnya karena suka nulis atau paling banter suka baca novel, karya sastra gitu. Itu emang mainstream, jujurly.
Sayangnya saya sendiri nyemplung ke sastra, ya, karena cuma itu yang saya bisa, bukan alasan mainstream yang aslinya juauh lebih baik ketimbang gue bisanya cuman itu doang yang kesannya ngeremehin diri sendiri.
Tapi, ya, seperti yang sempat saya bilang, saya udah telanjur nyemplung ke dunia kepenulisan sekitar lima tahunan, dengan kata lain dah biasa. Kata lainnya lagi, bisanya cuman itu doang, kalau disuruh di luar itu, ambyar.
Ini tuh, bahasa kasarnya, zona nyaman.
Jadi, ya, saya milih jadi nak sastra karena faktor zona nyaman.
Dan saya bukan tipikal suka keluar dari zona nyaman.
Miris? Memang.
Tapi, ya ..., begitulah pikiran orang yang pikirannya dah sempit, IQ jongkok pula.

Komentar
Posting Komentar